Friday, June 12, 2015

Review: Ngojek Asik GO-JEK & GrabBike


Ojek udah jadi kebutuhan jika beraktivitas di Ibukota, terutama kalau in a rush dan mendadak. Cuma part tidak menyenangkan kalau ngojek itu adalah tawar-menawar dengan abang ojeknya. 

Abang ojek sekitar CBD Sudirman-Thamrin-Kuningan itu pricey, harganya di atas rata-rata ojek pinggiran atau sekitar komplek perumahaan. Saat masih tinggal di Benhil, saya bayar ongkos ojek PP Rp20 ribu untuk rute The City Tower, Bundaran HI ke rusun Benhil. 

Sejak tinggal di Ciledug, saya cukup membayar setengahnya dari Jl. Inpres menuju rumah. Bahkan, kata mertua saya dikasih Rp7 ribu juga mau. Cuma saya nggak mau ribet dengan uang receh atau kembalian.

GO-JEK
Berkat social media, saya kenal dua aplikasi yang mengelola jasa ojek, yakni GO-JEK dan GrabBike. Awalnya saya install GO-JEK gara-gara postingan blog teman saya, Icha. Saya bahkan pakai referral code dia untuk free credit GO-JEK Rp50 ribu.

Saya akhirnya coba pakai GO-JEK berminggu-minggu setelahnya. Saya perlu ke Senayan City dari Sevel Teluk Betung saat rush hour pukul 5 sore. Saya perlu menunggu abang GO-JEK hampir setengah jam karena dia terjebak macet di Tanah Abang. Padahal di sekitar Sevel, beberapa abang GO-JEK nongkrong cuma tidak berkenan mengambil order saya. 

Tarif ojek dikenai Rp33 ribu dan otomatis terpotong dari credit GO-JEK. Saya memilih opsi credit ketimbang bayar tunai. Saat abangnya tiba, saya sempat menanyai dia, apa dia ojek yang menunggu saya. Abang GO-JEK mudah diidentifikasi dengan helm warna hijau-hitam dan jaket serupa. Dia tidak menawari masker dan hair cap, tapi buat saya ngga masalah sih.

Terhitung saya sudah tiga kali enam kali menggunakan jasa GO-JEK untuk mobilitas sekitar CBD, yang kalau naik busway masih perlu jalan kaki.

PROs:
- Tarif ojeknya terjangkau, tarif terendah Rp25 ribu
- Punya empat layanan: kurir, transport, GO-FOOD, dan shopping
- So far abang ojeknya riding safely, ramah, tahu jalan-jalan tikus bebas macet
- Sekitaran CBD, banyak abang ojeknya
- Cashless! GO-JEK menerima pembayaran tunai dan credit, yang di-topup macam e-money
- Abang ojek dilengkapi identitas nama dan foto
- Free credit buat first time user. Input kode referral saya ya: 542585643

CONs:
- GPS kurang akurat, kadang saya perlu menggeser sendiri kursor GPS karena GPS lama sekali menemukan lokasi yang saya tuju
- Kadang perlu lama menunggu notifikasi driver yang menerima orderan
- Abang GO-JEK ada yang ngga pake foto di notifikasi, ngga ada info nomor plat motor juga
- Rush hour (16.00-18.00) tarif minimal Rp35 ribu

GrabBike
Mengekor kesuksesan GO-JEK, GrabTaxi pun meluncurkan lini bisnis GrabBike yang 
operasionalnya persis seperti GO-JEK. Bahkan kemiripan sampai ke signature logo and colors: hijau-hitam. 

GrabBike hadir dengan promo ngga tanggung-tanggung, gratis ngojek dari sekitar Setiabudi dan Kuningan! Saya pun memanfaatkan promo gratis ini saat berkunjung ke kantor majalah CLEO di Kuningan, berangkatnya pake GO-JEK, pulangnya gratis pakai GrabBike.

Kualitasnya sama dengan GO-JEK. Abangnya berjaket dan berhelm logo GrabBike. Namanya ngojek tetapi beda company aja.

Begitu masa gratisan selesai, GrabBike kembali promo goceng ke manapun. Cukup bayar Rp5 ribu untuk ke seluruh penjuru Jakarta. Tetapi, saya nggak tega bayar goceng ke abang ojek, jadilah saya bayar Rp10 ribu-Rp15 ribu tergantung jarak dan manner abangnya.

Saat ini, promo GrabBike goceng masih berlaku hingga 17 Juni mendatang. GO-JEK pun ngga mau kalah dengan kasih flat rate semua layanan Rp10 ribu, ngojek ke tujuan maksimal 25KM.

PROs:
- GPS sangat akurat, begitu presisi dan cepat loading-nya
- Abang GrabBike juga mulai banyak beredar di CBD
- Bisa kasih tips ke abang ojek
- Suka kasih promo
- Abang GrabBike dilengkapi identitas nama, foto, dan nomor plat motor

CONs:
- Bayarnya cash
- Tarifnya lebih mahal, di atas GO-JEK
- Hanya service transport

Kedua aplikasi ini sangat berguna dan bisa di-download via iOs dan Android. Saya mendukung bisnis transportasi yang memudahkan mobilitas orang-orang.

Bali Green Run: The 13K that Devastated Us

"Lari marathon 13 kilo tanpa persiapan maksimal, you just chose to kill yourself"
Akhir bulan lalu, kami nekad ikut event lari marathon yang diselenggarakan Astra International Tbk. Soalnya event Bali Green Run, Astra Green Lifestyle berbarengan dengan trip kami di Bali. Sekalian aja, having fun lari-larian di Bali.

Marathon ini berlangsung di Elephant Safari Park & Lodge, Desa taro, Tegallalang, Ubud, Bali. Awalnya kami berpikir, seluas apa sih taman gajah ini sehingga rute larinya sampai 13 km?

Selain 13K, juga ada lari rute 6K yang mungkin lebih sesuai dengan kami. Sayang, keburu sold out dan kebagiannya yang rute panjang.

Berangkatlah kami dari Jakarta menuju Bali lengkap dengan sepatu olahraga, pakaian, dan handuk kecil. Meskipun ngga ada persiapan untuk ikut lari 13 km.

Minggu (31/5) pukul 06.00 pagi, kami dijemput driver Bli Wayan, driver baik hati yang baru didapat pukul 8 semalam. Bawa mobilnya ngebut karena jalanan masih sepi.

Pillow face sebelum lari 13K

Kami tiba di Elephant Safari Park & Lodge 1,5 jam kemudian. Sebenarnya, panitia juga menyediakan shuttle tetapi meeting point-nya di Sanur dan Ubud, cukup jauh dari hotel kami di Kuta. Kami memilih menyewa mobil supaya lebih leluasa singgah ke mana aja.

Marathon ngga lengkap tanpa racepack. Kami diberi racepack berisi kaos Bali Green Run 2015 dari Reebok, chip pencatatan waktu ChampionChip, buku panduan Lomba, botol Minum 700ml, dan souvenir dari sponsor lain. Para pelari juga dilindungi oleh asuransi Astra Life.

Ini adalah event lari pertama yang saya dan suami ikuti. Suami sebenarnya sporty banget tetapi lama-lama ketularan malesnya saya, hehehe. 

Kami mulai lari pukul 08.10, awalnya sih lari beneran selama beberapa menit. Lama-lama berakhir dengan jalan kaki, hahaha.

Sepanjang rute lomba 13,3K, medannya amit-amit bener karena bukan merupakan track yang lurus mulus kayak jalan tol Cikapali. Ini mah lari lintas alam karena harus naik-turun bukit, jalan di pematang sawah, masuk ke hutan, capek deh!

Beberapa kali saya ingin menyerah dan diangkut mobil medis saja. Tetapi, suami tercinta terus menyemangati bahwa kami mampu mencapai garis finis. Bahkan dia menggandeng sekaligus menyeret saya saat melewati medan tanjakan curam, hehehe. He's a very supportive husband :")

Water station pertama terletak menuju kilometer ke-3. Panitia menyediakan air mineral dan Pocari Sweat dalam gelas-gelas kecil. Segelas ngga cukup untuk minuman isotonik, boleh nambah lho!

Serunya, rute yang kami tempuh menawarkan pengalaman lari yang tidak biasa. Kami melewati beberapa lokasi khas setempat dan disambut oleh atraksi warga sana.

Ada Banjar Taro Kaja, Pura Agung Gunung Raung, Banjar Puakan, Hutan Binaan Astra, Pura Dalem, Banjar Pakuseba, dan obyek wisata Lembu Putih. 


Tetapi, karena takut tertinggal dan disalip peserta lain, saya nggak foto-foto selama lari, eh jalan kaki. 

Akhirnya, kami mencapai garis finis setelah berjalan kaki selama 3 jam 7 menit! What a long long lame lame journey! Bahkan, kami papasan dengan peserta yang udah selesai. Kami aja belum capai finis, mereka udah santai pulang.

Sampai finis, untung masih ada panitia. Saya kira mereka udah mulai beresin tenda, hahaha. Saya tetap disambut meriah, disalami mas-mas bule nan jangkung, dikasih air minum, pisang, dan dikalungi medali. YAY!!!!

YAY! Berhasil, berhasil, HOREEEE!

Suami dan medali perdana

I nailed it!
Setelah istirahat cukup, maksudnya menstabilkan lutut yang gemetaran, betis yang ngilu, dan paha yang tegang, kami menuju Elephant Safari Park & Lodge untuk santap siang.

Elephant Safari Park Lodge adalah salah satu tujuan wisata edukasi di Ubud. Suasananya hijau dan rimbun karena banyak pohon. Kami pun berjumpa gajah yang sedang mengangkut pengunjung di punggungnya. Mereka berjalan menyusuri kolam besar atau di sekitar taman.

Kami bisa foto bareng gajah meskipun tidak beli tiket untuk elephant ride. Soalnya HTM lumayan, sekitar Rp200ribuan untuk safari ride. 


Kami makan siang di Park Restaurants, yang berdesain seperti rumah panggung. Konsepnya buffet, sayangnya less appetizing bagi saya. Menunya ayam, ikan, sup, salad, nggak ada daging sapinya. Saya cuma makan sedikit karena menunya nggak menarik itu. 




Overall, event Bali Green Run as part of Astra Green Lifestyle sangat menyenangkan. Meskipun oleh-olehnya rasa pegal luar biasa. Hats off to Astra, Astra Life, Reebok, Planet Sports, dan Pandara Sports atas event melelahkan ini.

Saya semakin sayang suami karena dia sosok yang tidak mudah menyerah, kooperatif, suportif, dan optimistis. Tanpa suami, saya belum tentu finis 13,3K karena baru 3 km, saya pengen nyerah.


Wednesday, June 10, 2015

Munching time in Bali


Setiap jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri, saya biasanya mengusahakan mencicipi kuliner khas wilayah tersebut. Meskipun kadang main aman juga, seperti makan di well known fast food chains yang tentu halal. 

Malam pertama di Bali, kami kelaparan dan begitu melihat sign board KFC di depan Kutabex, Pantai Kuta langsung masuk ke sana. Padahal KFC terdekat ada di sekitar Kuta Square, tidak jauh dari hotel. 

Menu andalan saya di KFC adalah Oriental Bento yang murmer 10 ribuan aja. Bukan hanya murah, tetapi enak banget nasi dan potongan boneless chicken bersaus oriental. Suami biasanya pesan paket ayam, nasi, dan soft drink.

What's for dessert? Ternyata di depan KFC ada gerobak atau mini stall ice cream sandwich. Namanya Masterr Singapore Ice Cream. Padahal selama ini SG identik dengan es potong diselipin di selembar roti tawar.

Ada dua size, small size sekitar Rp17 ribu sedangkan large size Rp27 ribu. Yang small itu bite size banget, sekali makan langsung hap! Saya pilih yang large dengan harapan bisa berbagi dengan suami.

Saya pesan rasa double chocolate dan datanglah ice cream sandwich padat dengan lapisan es krim coklat cukup tebal. Sayang, cookies-nya nggak berasa coklat, just regular cookies rasa vanilla. Padahal double chocolate katanya. 



Rasa es krim coklatnya juga biasa, tidak terlalu istimewa tetapi ngga bikin gigi ngilu saat digigit. Variasi rasanya lumayan banyak tetapi untuk bite size tidak semua flavor tersedia. 

Hari gini, gak ke Bali namanya kalau belum menyantap nasi pedas. Tentu yang terkenal banget adalah nasi pedas Ibu Andika. Tahun lalu, kami sudah pernah mencoba nasi pedas Ibu ini di kios Patih Jelantik. Bahkan, sempat bersua beberapa seleb yang juga makan di sana.

Buka apps Waze, ternyata lokasi nasi pedas Ibu Andika tidak jauh dari hotel. Tampaknya bisa dijangkau berjalan kaki. 

Tetapi, di tengah jalan kami melihat ada warung nasi pedas Ibu Hanif. Kok familiar ya namanya. Suami pun mengusulkan untuk mencoba makan di sana, keburu laper dan masih perlu jalan lagi untuk ke bu Andika.

Lokasinya di pelataran toko yang sudah tutup di Pasar Kuta, persis di seberang Minimart, pojokan jalan Raya Kuta. 



Menunya mirip warteg, tinggal pilih mana yang suka. Saya memilih tumis kangkung, sambal goreng ati-kentang, dan telur balado. Untuk menu tersebut, saya hanya membayar Rp13 ribu. 

Makan berdua dengan suami ditambah dua teh botol dan kerupuk, sekitar Rp30 ribuan. Mursidah bener, cyin!

Rasanya endeuuss dan pedasnya manusiawi untuk lidah orang Minang! Sayur dan lauk-pauknya terasa fresh dan bumbunya pas. 

Lihat review lain nasi pedas Ibu Hanif di CumiLebay dan Aline.



Saat jalan-jalan seharian di Bali Timur, saya sempat bingung nyari tempat makan siang. Atas rekomendasi driver, kami diantar ke Balissa Bar & Restaurant yang terletak di jalan raya Pantai Candidasa.

Well, harganya standar lokasi wisata sih, agak di atas harga normal. Seporsi nasi campur dan nasi goreng ayam harganya Rp40 ribuan. Ice lemon tea sekitar Rp20 ribuan. Pokoknya, kami menghabiskan sekitar Rp170 ribuan makan siang di sini, tanpa dessert.

Saat di sana, hanya kami tamu domestik yang santap siang. Selebihnya adalah turis bule. Untungnya pelayannya ramah dan sempat basa-basi bertanya asal daerah kami.

Nasi campur datang tanpa sate lilit, kecewa sih. Soalnya nasi campur identik dengan sate lilit. Sambal matahnya enak, fresh banget, tetapi porsi sambalnya sedikit. Kemudian ada potongan tahu bergulai, eh ternyata itu adalah potongan ikan. Mbuh ikan apaan, saya ngga doyan.



Makan masakan Sunda di Bali? Silahkan datang ke Pawon Pasundan, yang berlokasi di Jl. Kediri, Tuban, Kuta. Lagi-lagi atas rekomendasi driver Bapak Ngurah. Beliau bilang kalau masakan Sunda Pawon Pasundan beda dari yang lain. Sambalnya uenak tenan!





Kami pun memesan paket nasi timbel berlauk empal daging dan ayam seharga Rp40 ribuan. Datanglah sekeranjang nasi timbel dalam gulungan daun pisang, empal daging, ikan asin, tahu dan tempe goreng. Sambalnya disajikan dalam piring kecil, porsinya melimpah, jadi nggak khawatir kehabisan sambal. Nasi timbel ngga lengkap tanpa sayur asem seporsi mangkuk kecil. 

Saat dicicipi, rasanya segeerrr! Semuanya terasa pas, baru kali ini makan sayur asem restoran yang enak menyegarkan. Tentu dong, sayur asem buatan mama tetap nomor satu.



Minumnya pesan teh manis hangat sedangkan dessert pisang bakar. Pisang bakarnya juga enak, pisangnya dengan tingkat kematangan pas, lembut, dan disiram gula merah cair. 



Makan berdua cukup Rp130 ribuan aja, bandingkan dengan makan siang di kawasan wisata siangnya.

Malam terakhir di Bali, sehabis Balinese massage di Smart Spa & Massage, Kuta, saya jajan satu scoop chocomint gelato seharga Rp15 ribu. Lebih murah dibandingkan pedagang yang berjualan persis di pantai Kuta Rp20 ribu per scoop.






Tuesday, June 9, 2015

Exploring the Eastern Bali Part 2


Untuk part 1, baca di sini ya.

Tujuan kami berikutnya adalah Taman Soekasada Ujung yang terletak di Karangasem. Berkat googling dan menemukan foto-foto bangunan indah di tengah kolam dan kuil bekas terbakar yang eksotis, saya memantapkan diri untuk mengunjungi taman ini.

Driver yang mengantar kami sampai bilang, baru kali ini dia mengantarkan turis ke tujuan wisata ini. Taman Soekasada Ujung ini merupakan tempat leyeh-leyeh Raja Karangasem. Makanya dibuat asri banget dengan kolam dan taman yang rimbun. 

Ruang beristirahat Raja ini dihubungkan oleh dua jembatan yang membelah danau. Jembatannya artsy banget, IG material deh.





Selain bangunan peristirahatan kerajaan, ada bangunan semacam kuil mirip Pantheon Yunani tetapi looked abandoned. Kita harus menaiki anak tangga dari sekitar bangunan peristirahatan, yang cukup tinggi dan curam. 

Sebenarnya ada shortcut menuju kuil tersebut, berupa pintu gerbang yang terletak jauh sebelum gerbang utama. Nah, pas kami ke sana, kebetulan pintu gerbang terbuka karena ada pasangan yang foto prewed di sana.

Belum puas, pengen foto-foto lagi, saat pulang gerbangnya malah digembok. Kalau mau naik tangga, ogah balik lagi.



HTM: Rp10.000 (dewasa)

Selanjutnya, kami menuju Tirta Tangga atau taman air yang masih berkaitan dengan Taman Soekasada Ujung Kerajaan Karangasem. Tempatnya seperti taman dengan air mancur dan kolam-kolam besar berair jernih. Banyak ikan koi sebagai penghuni kolam.

Serunya, ada semacam pijakan untuk melewati kolam. Jangan takut jatuh karena pijakannya kokoh sampai ke dasar kolam. Awas oleng aja sih, hehehe.

Selokannya saja dialiri air jernih, bisa banget buat rendam kaki di sana. Ada juga kolam untuk berenang dengan tiket masuk Rp10 ribu untuk dewasa.








HTM: Rp10.000 (dewasa turis domestik)

Last stop adalah pantai Candidasa, yang sebenarnya sudah kami lewati saat menuju Desa Tenganan. Sayangnya ngga bisa melihat sunset tetapi kami cukup senang bisa menghirup aroma pantai dan duduk-duduk di sana.




Monday, June 8, 2015

Exploring the Eastern Bali Part 1


Ke Bali? Bosen ngga sih bagi saya yang sudah dua kali ke Pulau Dewata. Apalagi suami yang berkali-kali ke Bali dalam rangka liputan maupun outing kantor.

Tetapi, saat depresiasi rupiah terus-menerus berlangsung, wisata domestik menjadi pilihan utama. Dollar Singapore udah 10 ribu rupiah aja per SGD! Apalagi HKD, pupus sudah impian mau berkunjung ke Disneyland Hong Kong pada tahun ini. 

Kami harus berhemat dan memilih tujuan berlibur yang masih terjangkau dan tidak terbebani selisih kurs yang tinggi. Jadilah kami memilih Bali, booking hotel dan penerbangan sejak April, menghabiskan dana sekitar Rp4,5 juta untuk tiket PP AirAsia untuk dua orang dan 4D3N di favehotel Kuta Square.

Kali ini, kami mengeksplor Bali sebelah timur yang memiliki beberapa tujuan wisata. Bosen ngga sih ke Tanah Lot, Uluwatu nonton kecak, Pura Ulundanu, Dreamland, dll? Makanya saya memilih Bali Timur yang belum, kayaknya sih ya, dikunjungi wisatawan.

First stop, kami bertandang ke Kabupaten Klungkung. Bersama Bapak Ngurah, driver yang mengantar kami berwisata, kami mencapai Klungkung dalam 1,5 jam. Apa yang kami temui di kabupaten ini? Kerta Gosa, komplek kerajaan Klungkung, yang memiliki desain arsitektur yang menarik.

Kerta Gosa terdiri dari dua bale, Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang. Bale Kerta Gosa berupa bangunan tinggi dengan ukiran dan lukisan di langit-langitnya, serta terdapat kursi dan meja tempat perundingan keadilan.

Adapun, Bale Kambang terletak mengapung di atas kolam yang dipenuhi teratai. Bale Kambang ini yang membuat kompleks kerajaan ini terlihat cantik dan menawan.

Selain itu, ada Museum Semarajaya di lokasi yang sama. Museum ini memamerkan koleksi sejarah terkait Kerajaan Klungkung. Cukup menarik untuk diintip sambil mendengar musik khas Bali.

HTM: Rp12.000 (dewasa)





Selanjutnya kami menuju Pura Goa Lawah, Pasinggahan, Kab Klungkung. Bali memang punya banyak pura tetapi hanya pura ini yang diinapi kelelawar. Pura ini terletak di sebuah gua yang dipenuhi oleh kelelawar. Kebetulan pada Senin (1/6) lalu, umat Hindu di Bali tengah berdoa untuk malam Purnama sehingga mereka sembahyang di pura tersebut.

Pengunjung wajib memakai sarung yang disewa di loket tiket. Ada juga jasa pemandu dengan tarif sukarela. Pergerakan pengunjung juga dibatasi, tidak boleh masuk ke dalam gua hanya di area luar. Tetapi, kelelawar penghuni gua terlihat dengan jelas.

Di seberang Pura Goa Lawah, terdapat pura di tepi pantai. Pantainya bisa dikunjungi tetapi terkesan biasa saja dibandingkan dengan Pantai Dreamland. Mirip pantai Kuta dengan pasir hitam. Malah pantainya terkesan kotor karena sesajen ditaburkan di sana.

HTM: Rp10.000 (dewasa, termasuk sewa kain sarung)





Setelah Pura Goa Lawah, kami menuju ke Desa Tenganan, Manggis, Kabupaten Karangasem. Desa ini disebut sebagai desa Bali asli, didiami oleh penduduk asli Bali dengan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Desa Tenganan akhirnya menjadi tujuan wisata yang menarik minat wisman.

Saat kami ke sana, suasana desa cenderung sepi karena tidak ada atraksi, seperti yang terpampang di spanduk pintu masuk. Mana cuaca terik bener dan tidak ada pepohonan rindang. Warga desa juga tidak tampak, mungkin memilih ngadem di dalam rumah.

Di beberapa rumah warga, terdapat meja yang berisi pajangan telur yang sudah dihias dan ukiran di bilahan bambu. Ada juga yang menawarkan kain double ikat atau kain khas Tenganan, yakni kain gringsing.

Desa Tenganan menanjak ke atas, berundak-undak dengan tanjakan beralas bebatuan. Siap-siap pegel dan ngos-ngosan. Di tengah jalan desa, ada satu bangunan kayu menarik mirip kincir. Eh ternyata itu adalah ayunan, bukan pajangan hiasan desa. Ekstrim bener, lihat aja gambar di bawah ini.

HTM: bayar seikhlasnya